Inkonsistensi Sherlock
Kali ini, saya mau berbagi kesukaan akan Sherlock versi BBC. Detektif yang unggul dalam hal rasiosinasi ini memang sudah jadi idola saya sejak duduk di bangku SMA. Amat banyak versi Sherlock yang pernah dibuat. Sejauh ini, versi BBC-lah yang menurut saya paling brilian. Jalan cerita, penokohan, pemilihan latar dan dialog sungguh menarik. Untungnya, banyak teman sherlockian yang sepakat dengan saya.
Yeah, perbandingan antara Ben Cumberbatch-Martin Freeman dengan Robert Downey Jr.-Jude Law memang signifikan. Soal fisik. jauhhari Sir Conan melukiskan kalau Sherlock berpostur lebih tinggi dari John, dengan tulang pipi tinggi dan bermata elang. John pun digambarkan agak gemuk khas seorang pensiunan tentara dengan sisa-sisa otot yang masih padat berisi. Tetapi antara Sherlock dan Sherlock Holmes-Guy Ritchie memang punya pasar yang berbeda. Beda produsen, jelas beda rasa. Satu Inggris, lainnya rasa Amerika. Sah-sah saja bila Sherlock mau dibuat seperti apa. Tergantung strategi dan treatment yang sudah disepakati.
Ah, tapi di sini mah saya nggak mau ngebahas panjanglebar soal ketidaksukaan akan Sherlock Holmes holiday-nya Guy Ritchie. Sebaliknya, saya malah mau bagi-bagi keisengan lewat ketidakkonsistenan Sherlock versi BBC. Yuk mati, eh yuk mari!
Kita mulai dari episode pertama, Study in Pink. Dikisahkan dokter bedah ketentaraan John Watson memasuki masa pensiun dini lantaran bahu kirinya tertembak saat bertugas di Afghanistan. Ia pun bertemu Sherlock untuk pertama kalinya di sebuah rumah sakit. John dan Sherlock janji bertemu di Baker Street 221B, flat yang kelak menjadi tempat tinggal sekaligus kantor mereka.
Mungkin karena episode awal, film ini masih kekurangan talent
Perhatikan sosok wanita berambut keriting bermantel hitam. Tak berapa lama, Sherlock keluar dari taksi dan menghampiri John. Di saat yang sama, dua orang wanita -salah satunya berambut pirang berkepang, berjalan ke arah yang berlawanan dengan wanita berambut keriting tadi.
Sherlock dan John pun masuk ke flat mereka. Nggak lama, Detektif Inspektur Lestrade datang dan memberi kabar bahwa terjadi pembunuhan keempat. Mengundang John untuk ikut ke TKP, Sherlock dan asisten barunya itu keluar dari flat dan memanggil taksi. Di saat itulah, wanita keriting bermantel hitam dan berambut pirang-kepang kembali nongol. Rupanya, dalam waktu singkat kedua wanita ini sudah saling kenal dan memutuskan untuk jalan bareng!
Masih dari episode dan lokasi yang sama. John yang baru saja ‘diculik’ Mycroft Holmes (diperankan Mark Gatiss, sang penulis skenario) kembali ke Baker Street. Saat hendak keluar dari mobil, sepasang muda-mudi berjalan di belakang mobil. Namun di shoot berikutnya, pasangan yang tadinya pria-wanita itu pun berubah jadi dua orang wanita! 

Lanjuuttt! Ini yang menjadi favorit saya: The Fall of Reichenbach. Hidup-mati Sherlock dan musuh bebuyutannya James (Jim) Moriarty ditentukan di sini. The final problem: Jim harus membakar, menghancurleburkan, menjatuhkan (kiasan dan arti sebenarnya) Sherlock dari popularitasnya. Sang konsultan kriminal itu pun memanfaatkan media massa untuk memuluskan rencananya. Ia sengaja membobol sistem keamanan beberapa tempat penting di London.
Ketika berada di tempat pameran Cown Jewels, Jim menuliskan sebuah pesan di dinding kaca yang melapis mahkota. Mari kita lihat urutannya.
Ada keanehan? Ya! Bagaimana mungkin tulisan ‘SHE’ sudah ada di dinding kaca pada frame kedua? Sedangkan Jim baru menuliskan kata ‘SHERLOCK’ di frame selanjutnya.
Ada lagi. Perhatikan di mana persisnya Jim menempelkan permen karet yang dimanfaatkan sebagai perekat bagi berlian penghancur kaca-antipeluru. Ayoo jadi di mana ayooo!
Masih dari TKP, love this f#*in part!
, Jim adalah seorang kidal. Artinya, tangan kirinya lebih dominan ketimbang tangan kanan. Sekarang saya bertanya kepada kalian yang kebanyakan dominan-kanan: apakah kalian akan menggunakan tangan kiri untuk menghancurkan sebuah objek seperti ini?
Satu lagi dari TKP. Serius, ini satu kali lagi. Ketika rekaman pembobolan Crown Jewels diputar ulang, tampak layar monitor CCTV tidak logis dengan keadaan sekitarnya. Kok bisa garis tepi layar sebelah kiri menutupi lengan manusia? Padahal garis tepi layar sebelah kanan sudah sempurna tuh. Mungkin animator-editornya lagi ngantuk, nih.
Sudah bosankah? Maaf kalau jadinya terlalu membosankan dan membuat waktu kalian jadi terbuang gara-gara hobi saya ini. Sungguh, nggak ada maksud untuk mencela serial ini karena saya justru jatuh cinta. Itu sebabnya saya jadi ngeh terhadap beberapa ketidakkonsistenannya, karena ya memang saya menontonnya berkali-kali.
Terima kasih atas waktunya, yaa. Salam Sherlockian!
NB: Oh iya, kalau kalian punya analisis sejenis, boleh loh tinggalkan komentar atau link yang bisa diakses. Siapa tahu ada beberapa ketidakkonsistenan yang luput dari perhatian saya. Ciao!
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao
Ciao!
Upsss! Sorry boys! I’m soooo changeable! It is a weakness with me. But to be fair to myself, it is my only weakness.
Tadinya saya mau sok-sokan menahan beberapa analisis ketidakkonsistenan di serial Sherlock untuk dipost lain waktu. Ah tapi sungguh, saya tak tahan! Jadi, mari kita lanjutkan sedikiiiiit lagi!
The Fall of Reichenbach memang menarik. Masih ingat ketika akhirnya Sherlock membuat janji bertemu dengan Jim di atap gedung? Momen itulah yang menjadi akhir kehidupan Jim Moriarty. Ia bunuh diri dengan menembakkan peluru lewat mulutnya!
Hmm. Tetapi, benarkah Jim tewas? Apakah ia benar-benar terlihat seperti sedang menggenggam sebuah pistol di tangan kirinya? Where? When? Di frame berikut ini nggak ada, kan? Iya, kan? Atau gue tertipu oleh indera pengelihatan sendiri?
Tapi di tampilan selanjutnya, Jim memang menggenggam pistol di tangan kirinya. Mungkin setelah bunuh diri, pistolnya terlepas kemudian Jim memungutnya kembali. Hehehe. Eh, tapi ada beberapa Sherlockian yang beranggapan bahwa adegan ini dibuat dengan alasan tertentu. Salah satu alasannya adalah untuk mengungkapkan bagaimana Sherlock memalsukan kematiannya. Entahlah.
Terakhir, nih! Serius kali ini jadi yang terakhir.
Akhirnya, Sherlock menyempurnakan skenario Jim dengan melompat dari atas gedung. Jatuh dari ketinggian, kepala Sherlock hancur berlumur darah kental. Perhatikan di mana posisi jatuhnya Sherlock serta keadaan di sekitarnya.
Posisi Sherlock telah berubah! Ia yang tadinya terbaring di antara dua kursi dan dekat sebuah kios, lantas bergeser beberapa meter. Jasad Sherlock pun sudah dikerumuni orang-orang termasuk staf rumah sakit. Selain itu, tiba-tiba saja truk merah yang tadinya ada di dekat Sherlock menghilang. Ketika hendak menghampiri jasad Sherlock, John pun tertabrak pesepeda. Di saat yang sama, kedua staf rumah sakit justru baru muncul. Si truk merah yang tadi pergi pun datang lagi. Menurut saya, inilah truk paling labil se-London: nongol-ilang, nongol-ilang.
Sebagai pembanding, inilah posisi akhir Sherlock dilihat dari atas gedung tempatnya melompat.
Saya yakin, kali ini kalian pasti sudah bosan membaca post saya kali ini. Maaf ya. Lain kali, tak akan terulang lagi. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir di halaman saya. Salam.
NB: Ketidakkonsistenan juga muncul di A Scandal in Belgravia dan The Blind Banker. Mau?
Posted on January 21, 2013, in Tulisan. Bookmark the permalink. 2 Comments.












Tenyom!
AY!